Menurut Yusril Ihza Mahendra, peraturan undang-undang tentang Jakarta sebagai ibu kota dan Jakarta sebagai pemerintah daerah adalah penyebab dari tidak selesainya masalah di Jakarta. Bukan tidak mungkin, jika masih seperti ini permasalahan di Jakarta tidak dapat terselesaikan dengan baik. Oleh karena itu, Yusril mengusulkan agar suatu saat Jakarta lebih baik ditangani langsung oleh pemerintah pusat, bukan lagi bentuknya pemerintah daerah. Gagasan itu juga yang membuat Yusril ikut mencalonkan diri sebagai Gubernur DKI Jakarta pada saat itu, dan siap bertarung dengan Gubernur Petahana Basuki Tjahaya Purnama atau Ahok di Pilkada 2017 kemarin. Berbagai cara untuk menarik simpatik publik pun mulai ditempuh oleh Yusril pada saat itu. Mulai dari mendatangi sejumlah partai politik, menjadi pengisi acara di berbagai tempat, bahkan sempat menjadi Kuasa Hukum warga Luar Batang yang akan digusur oleh pemerintah DKI Jakarta waktu itu. Lalu, seperti apa Yusril menarik simpatik publik saat itu? Bagaimana cara ia memperoleh dukungan partai politik?

            Keinginan Yusril Ihza Mahendra untuk maju sebagai bakal calon Gubernur DKI Jakarta memang  mengundang banyak pertanyaan dan kritikan. Pasalnya, jika dilihat dari sejarah Yusril merupakan sosok yang tak asing lagi di dunia perpolitikan Indonesia. Bisa dibilang ia merupakan tokoh senior dalam politik. Sederet jabatan pernah ia pegang, mulai dari jabatan di organisasi, partai politik, hingga di pemerintahan. Yusril pernah tiga kali menjabat sebagai menteri dalam kabinet pemerintahan Indonesia, yaitu Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia pada Kabinet Persatuan Nasional Presiden Abdurrahman Wahid, Menteri Hukum dan Perundang-undangan pada Kabinet Gotong Royong Presiden Megawati Soekarnoputri, dan terakhir sebagai Menteri Sekretaris Negara pada Kabinet Indonesia Bersatu Presiden Susilo Bamang Yudhoyono. Bahkan ia juga pernah mencalonkan diri sebagai calon presiden. Belum lagi, pada tahun 1998 hingga 2005, ia merupakan ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB) pertama dan kini ia terpilih kembali menjadi ketua umum partai tersebut.
Tak hanya sebagai politikus saja, ia juga dikenal sebagai pakar hukum tata Negara dan tokoh  intelektual Indonesia. Jika dilihat dari struktur organisasi pemerintahan, tentu menjadi seorang Gubernur adalah sebuah jabatan di bawah pemerintah pusat. Sedangkan Yusril sendiri dulu sudah pernah menjabat di pemerintah pusat. Tak hanya itu saja, jika ia jadi maju menjadi calon gubernur di Pilkada 2017, secara otomatis ia berhadapan langsung dengan para politikus yang secara pengalaman di bawahnya, yaitu Basuki Cahaya Purnama atau Ahok. Namun, secara survey, kepopuleran Yusril saat itu masih kalah dengan kepopuleran Gubernur Petahana Basuki Cahaya Purnama. Saat itu, ia pun harus memutar otak untuk menarik simpatik publik terhadapnya. Mulai dari mendatangi sejumlah partai politik, pengisi acara, bahkan ia pernah menjadi Kuasa Hukum dari warga Luar Batang yang akan digusur oleh pemerintah DKI Jakarta saat itu. Berbagai kritikan tajam pun mengalir terhadap dirinya saat itu. Namun, Yusril pun mengaku tak masalah terhadap kritikan tersebut. Karena ia mengaku punya tujuan besar atas niatannya untuk maju di Pilkada 2017. Berikut adalah liputan khusus tentang Yusril Ihza Mahendra saat ia berada di Universitas Indonesia pada tahun 2016 kemarin.
            Perjalanan Politik. Jumat (22/04) saya bertemu dengan Yusril Ihza Mahendra di Universitas Indonesia (UI), Depok, Jawa Barat. Sekitar pukul 11.00 WIB, ia tiba di stasiun UI memakai almamater berwarna Kuning dan celana bahan warna hitam dan langsung disambut oleh para mahasiswa UI yang memakai jas almamater kebanggaan mereka warna kuning. “Selamat datang Prof Yusril ke Kampus perjuangan,” sambut para mahasiswa tersebut kepada Yusril. Siang itu Yusril datang bersama para pendukungnya menaiki Commuter Line dari Stasiun Manggarai, Jakarta Pusat menuju Stasiun Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat.
            Hari itu, Yusril akan mengisi tiga kegiatan di Kampus UI, yaitu menjadi Khatib Salat Jumat di Masjid Ukhuwah Islamiyah Universitas Indonesia, menghadiri acara Center for Election and Political Party (CEPP) bertema Dialog Kebangsaan; Dari UI Untuk Bangsaku, dan terakhir ia akan menjadi pembicara acara Tatsqif Pengajian Mahasiswa bertema Dinamika Keumatan Nasional dan Internasional di Fakultas Teknik UI. Setelah menyapa warga UI, Yusril pun kemudian dijemput dengan mobil untuk menuju ke Fakultas Hukum UI. Yusril akan mempersiapkan diri menjadi khutbah karena sebentar lagi akan masuk waktu Salat Jumat.
            Tak lama kemudian, Yusril pun sampai di Fakultas Hukum dan langsung mempersiapkan diri di sebuah ruanganan sambil diiringi oleh para koleganya. Yusril disambut oleh para dosen dan staf Fakultas UI. Terlihat mereka duduk di sebuah kursi sofa berwarna cokelat. Mereka membicarakan tentang agenda Yusril di kampus tersebut. Setelah kurang lebih 30 menit, Yusril pun keluar dari ruangan memakai baju kokoh warna hijau dan celana bahan warna hitam serta kopiah warna hitam. Yusril pun memilih berjalan menuju Masjid karena letak Masjid bersebelahan dengan gedung Fakultas tersebut.
            Setelah Khutbah dan Salat Jumat selesai, Yusril pun kemudian menuju ke ruang secretariat Masjid untuk menikmati hidangan makan siang yang sudah dipersiapkan untuknya. Setelah makan siang, Yusril kemudian mempersiapkan diri untuk acara selanjutnya. Terlihat Yusril sedang memakai almamater warna kuning kembali. Sekitar pukul 13.00 WIB, Yusril pun kemudian menuju ke Taman Lingkar Perpustakaan UI. Sesampainya di lokasi, kedatangan Yusril pun langsung disambut oleh para Mahasiswa dan sejumlah tamu undangan. “Hidup gubernur, Bang Yusril,” ucap sebagian para tamu yang hadir.
            Yusril akan menjadi pembicara di acara Dialog Kebangsaan: Dari UI Untuk Bangsaku. Acara tersebut digelar oleh Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) UI dan Komite Aktivis IKM UI. Menurut salah satu panitia, Yusril diundang karena ia merupakan salah satu alumni UI yang mempunyai pengalaman di bidang politik Indonesia. Tak hanya Yusril, acara tersebut juga dihadiri oleh beberapa alumni lainnya, seperti Fahri Hamzah dan budayawan Ridwan Saidi. Selain itu, Rektor UI Muhammad Anis juga hadir di acara tersebut. Kurang lebih 500 peserta hadir di acara tersebut.
            Saat sambutan, Yusril kemudian bercerita tentang perjalanan dirinya saat menjadi mahasiswa UI hingga ia bisa sampai terjun di dunia politik. Yusril mengaku bangga karena menjadi salah satu warga kampus Universitas Indonesia.“Saya senang dan saya bangga menjadi warga universitas indonesia. saya terus terlibat dalam banyak kegiatan. Kegiatan akademik, aktivis mahasiswa,” ucap Yusril saat memberikan sambutan di acara Dialog Kebangsaan.
            Yusril memang merupakan alumni dari Universitas Indonesia. Ada banyak kenangan di kampus yang berjuluk kampus kuning tersebut. Dari mulai ia menjadi seorang Mahasiswa hingga menjadi seorang guru besar diperolehnya di sana. Setelah lulus SMA, ia melanjutkan kuliah S1 di Universitas Indonesia mengambil jurusan Ilmu Filsafat di Fakultas Sastra dan juga Hukum Tata Negara. Selama menjadi mahasiswa UI, bakat politiknya terlihat ketika ia aktif dalam kegiatan mahasiswa. Yusril pernah terpilih menjadi Ketua Majelis Permusyawaratan Mahasiswa (MPM) UI, betgabung di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), dan Badan Komunikasi Pemuda Masjid Indonesia (BKPMI).
            Setelah menyelesaikan pendidikan SI-nya di Universitas Indonesia, kemudian Yusril mengambil gelar master di University of the Punjab, India, dan terakhir ia mendapat gelar Doctor of Philosophy dalam politik di University Sains Malaysia. Di dunia pendidikan Yusril Izha Mahendra dikenal sebagai Professor dan Pakar Hukum Tata negara, ia berprofesi sebagai dosen di beberapa universitas seperti dosen di fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), kemudian dosen di Akademi Ilmu Pemasyarakatan, Departemen Kehakiman pada tahun 1983, serta Guru besar di Program Pascasarjana UI dan juga Fakultas Hukum UI. Selain itu, ia juga diangkat sebagai Guru Besar Ilmu Hukum di Universitas Indonesia dan mengajar Hukum Tata Negara, Teori Ilmu Hukum dan Filsafat Hukum pada program pascasarjana UI.
            Keaktifannya di dunia pendidikan dan organisasi akhirnya membuat ia terpilih sebagai ketua di berbagai organisasi politik maupun partai. Pada tahun 1998 hingga 2005, ia terpilih menjadi Ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB). Selain itu, Yusril juga pernah menjadi anggota organisasi yang berafiliasi kepada Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII) yang bernama Pemuda Muslimin. Tak hanya itu saja, Yusril juga pernah menjadi pengurus Muhammadiyah, Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia dan Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI).
            Pada pemerintahan, Yusril pernah menjabat menteri di 3 era cabinet pemerintah. Pada era Presiden Abdurrahman Wahid, Yusril dipercaya menempati posisi Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia, pada masa Presiden Megawati Soekarnoputri Yusril Izha Mahendra menjabat sebagai Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia Kabinet Gotong Royong, dan terakhir pada masa Kabinet Indonesia Bersatu dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menjadi Menteri Sekretaris Negara.
                       Tujuan Pencalonan. Keinginannya menjadi gubernur ternyata sudah dipikirkannya matang-matang. Keinginannya tersebut tak terlepas dari segala permasalahan ibu kota yang tak kunjung terselesaikan saat itu, seperti persoalan kemacetan jalan, banjir, dan sampah. Buatnya, dengan membenahi provinsi Jakarta itu sama saja dengan membenahi Negara. “Saya katakan, membenahi negara harus dimulai dari ibu kotanya. Ibu kota semua negara adalah pintu gerbang dan simbol dari negara itu. bagus ibu kotanya, bagus juga negaranya. Rusak ibu kotanya, rusak juga negaranya,” terang Yusril.
            Jika menjadi gubernur, Yusril ingin menyelesaikan segala permasalahan yang ada di Ibu kota. “Saya ingin menyelesaikan permasalahan lama antara pusat dan daerah yang tak kunjung terselesaikan sampai sekarang dan menimbulkan masalah2 dan juga kita tidak dapat menyelesaikan dalam mengatasi broblem indonesia dan problem Jakarta,” ucap Yusril.
            Yusril mengkritisi pemerintahan Jakarta saat itu, yang di pimpin oleh Gubernur Basuki Cahaya Purnama. Menurutnya, tidak ada kewenangan yang jelas di pemerintahan daerah Jakarta dan pemerintah pusat. “Dimanakah kewenangan pemerintah RI di jakarta. kenyataannya kewenangan pemerintah pusat itu hanya di pagar istana itu saja. Di luar itu daerah. Dan itu kewenangan gubernur daerah khusus ibu kota jakarta,” ucap Yusril.
            Menurutnya, dua kewengangan tersebut yang merupakan salah satu penyebab tidak selesainya permasalahan Jakarta sekarang. Seperti diketahui, Jakarta sekarang memilki dua peraturan undang-undang. Pertama, Undang-undang Nomor 23 tahun 2014 sebagai Pemerintah Daerah dan Undang-undang Nomor 29 tahun 2007 tentang Pemerintah Daerah Khusus Ibukota Jakarta sebagai Ibukota Negara. “Yang ingin diselesaikan oleh pemerintah pusat terbentur oleh kewenangan daerah. Sehingga persoalan itu terus tidak terselesaikan. Baik persoalan kemacetan lalu lintas, masalah pemukiman, masalah banjir, masalah sampah. Masalah-masalah ini tidak terselesaikan karena kewenangan yang tumpang tindih antara satu dengan yang lain,” terang Yusril.
            Melihat dua kebijakan tersebut, yusril menilai agar suatu saat Jakarta ditangani oleh oleh pemerintah pusat, bukan lagi sebagai pemerintah daerah. “Saya berfikir suatu saat lebih baik jakarta berada langsung dibawah pemerintah pusat RI, tidak lagi dalam bentuk pemerintah daerah. Ibu kota negara republik indonesia adalah milik seluruh rakyat indonesia. bukan milik warga DKI saja. Ini jalan yang kita pikirkan,” ucap Yusril.
            Namun, keinginannya tersebut diakui oleh Yusril akan memerlukan waktu yang cukup lama. Memerlukan transisi beberapa tahun agar Jakarta dibawah langsung pemerintah pusat. Karena hal tersebut yang membuat             Yusril ingin maju dalam pencalonan sebagai gubernur Jakarta. “karena itu saya tertarik untuk maju ke pencalonan gubernur dki jakarta. berkeinginan untuk memberikan kontribusi dalam menyelesaikan persoalan-persoalan jakarta. menyelesaiakna persoalan jakarta adalah menyelesaikan persoalan bangsa,” jelas Yusril.
            Yusril yakin, permasalahan Jakarta akan segera teratasi apabila Jakarta ditangani langsung oleh pemerintah pusat. Selain itu juga akan memudahkan kordinasi dengan pemerintah daerah lain. Yusril sepakat bila mengatasi permasalahan di Jakarta tidak bisa dilakukan seorang diri oleh Gubernur DKI Jakarta. Misalnya saja dalam mengatasi kemacetan perlu bekerjasama dengan pemerintah daerah sekitarnya dan pemerintah pusat. “Bagaimana kita mengatasi banjir di jakarta. jakarta menjadi muara aliran sungai yang dulunya da di pegunungan jawa barat. Bagaimana kita mengatasi tumpang tindih kewenangan, kordinasi kewenangan antara jakarta, jawa barat, dan banten. Kalau diserahkan ke masing-masing gubernur persoalan ini tidak selesai. kecuali pemerintah pusat atau jakarta, dibawah langsung pemerintah pusat. Mengatasi masalah saja, gubernur yang sekarang ini berkali kali menutup bantar gerbang. Saya bilang, tutup aja. kita nggak takut. Seminggu aja anda tutup bantar gerbang, jakarta ini akan menjadi lautan sampah. Jakarta bukan lah tempat yang tepat untuk mengolah sampah,master plan pemerintah dki ingin membangun 7 tempat penanganan sampah di jakarta. sampai hari ini hanya satu yang bisa bekerja di sunter. Yang lainnya nggak ada . jadi persoalan2 ini selain dari pada persoaln teknis yang harus menyelesaikan persoalan-persoalan  ini. Tapi juga persoalan hukum, persoalan pengembangan wilayah, persoalan sosial, persoalan budaya yang ada di jakarta yang semestinya dapat kita pikirkan bersama sama. Saya tentu punya pemikiran global tentang hal itu,” terang Yusril.
            Tak hanya itu saja, jika terpilih menjadi Gubernur saat itu, Yusril juga berencana dalam kurun waktu kurang dari 5 tahun ia akan mengentaskan kemiskinan di Jakarta.  “Persoalan-persoalan itu tentu pertama adalah kita selesaikan dari sudut pemerintah. Pemerintah harus menyelesaikan persoalan-persoalan yang dihadapi oleh masyarakat Jakarta itu pertama kali adalah persoalan ketimpangan social ekonomi antara masyarakat miskin dan masyarakat kaya. Nah saya memang berencana untuk dalam kurang dari 5 tahun itu untuk menghapuskan kemiskinan di Jakarta,” ucap Yusril.
            Selain itu, untuk pengelolaan dana dari perusahaan juga nantinya akan berdasarkan kesepakatan pemerintah dan DPRD. “Ada rencana-rencana yang memang kita lakukan nanti. Tapi saya berkeinginan bahwa dana kompensasi dari kegiatan--kegiatan apapun, dana CSR dari perusahaan-perusaan itu harus dikelola oleh APBD. Paling tidak itu harus dikelola berdasarkan kesepakatan antara pemerintah dengan DPRD, dengan demikian kita secara demokratis menyelesaikan persoalan2 untuk menangani proyek-proyek yang ada di jakarta. Tidak seperti sekarang. Ditangani oleh gubernur sendiri seolah olah sebagai dana Non APBD,” terang Yusril.
            Simpatik Publik dan Parpol. Setelah acara tersebut selesai, Yusril pun kemudian bersiap-siap menuju acara selanjutnya. Kali ini ia akan menjadi pembicara acara Tatsqif Pengajian Mahasiswa bertema Dinamika Keumatan Nasional dan Internasional di Fakultas Teknik UI. Yusril kemudian melepas almamater dan berganti pakaian dengan memakai baju kemeja lengan pendek warna putih. Sekitar pukul 16.00 WIB, dari Taman Lingkar Perpustakaan UI, Yusril kemudian menuju ke Fakultas Teknik UI. Tak lama kemudian, Yusril pun sampai di lokasi dan langsung disambut oleh para mahasiswa yang sudah menunggunya. Tak hanya sendiri, Yusril juga ditemani oleh Adhyaksa Dault yang juga menjadi pembicara di acara tersebut.
            Sebagai penantang Gubernur Petahana Ahok di Pilkada 2017, Yusril merupakan salah satu bakal calon gubernur Jakarta yang aktif saat itu dalam berinteraksi dengan warga Jakarta. Berbagai cara untuk menarik simpatik publik pun kini mulai ditempuh oleh Yusril. Mulai dari mendatangi sejumlah partai politik, menjadi pengisi acara di berbagai tempat, bahkan ia menjadi Kuasa Hukum warga Luar Batang yang akan digusur oleh pemerintah DKI Jakarta saat itu. “Semakin tersedia panggung buat saya untuk berbicara ke publik, semakin memperbesar dukungan publik kepada saya. saya pikir itu positif saja bagi saya dan setiap hari saya melakukan kegiatan-kegiatan. Termasuk juga hari ini. proses itu berjalan. Dan proses pengumpulan tanda tangan juga berjalan di masyarakat. Dan itu kita lakukan secara balens. Proses negosiasi dengan partai-partai politik,” terang Yusril.
            Menurut Yusril, saat itu ia belum ada partai yang menyatakan resmi mendukungnya. Meski begitu, ia pun optimis akan memperoleh dukungan dari partai. Hampir semua partai sudah ia datangi agar memperoleh dukungan terhadapnya. Ada mekanisme partai yang ia patuhi ketika mendaftar ke partai politik. Salah satunya adalah dengan mengisi formulir pendaftaran dan menunggu hasil keputusan dari setiap DPP partai. “Saya sudah berbicara dengan partai-partai politik kecuali nasdem dan hanura. Karena nasdem dan hanura sudah memutuskan akan mendukung petahana. Pada prinsipnya semua partai itu punya pandangan yang sama bahwa mereka akan mencari calon internal maupun eksternal yang punya kapailitas. Dan yang paling penting adalah punya elektabilitas palinng tinggi berhadapan dengan katahana. Saiapa yang akan mereka tentu kan ya kita lihat daripada hasil survey yang dilakukan oleh masing-masing partai maupun dilakukan oleh lembaga independent,” ucap Yusril. 
           Sekitar pukul 18.00 WIB, acara diskusi tersebut selesai. Untuk mengabadikan momen tersebut, terihat mereka berfoto bersama. Didampingi dengan para koleganya, Yusril pun kemudian keluar dari ruangan tersebut untuk pulang ke rumahnya. Sebagai salam perpisahan, tak lupa merekapun berjabat tangan satu sama lain. Acara tersebut juga menandai selesainya kegiatan acara Yusril pada hari itu.