Rindu sekali masa itu. Fajar yang membangunkanku untuk menyudahi mimpi malam. Suara sahutan alam dari setiap speaker kampung masjid. "Alhamdulillahiladzi ahyana badana amatana wailaihinusur" Menggema dan kemudian perlahan masuk ke dalam lobang telingaku. Bau minyak wangi Ayahku mulai masuk hidung. Petanda, bahwa aku akan dibangunkan olehnya. Meskipun sudah bangun, namun aku sengaja ingin mendengar rutinitasnya. Saat pintu kamar terbuka, aku siap-siap bergumul dengan selimut. "Ayo bangun, udah Subuh," suara itu pun aku biarkan menyapa tubuhku. Sampai pada nada yang lebih tinggi, baru aku mulai bangun. Jawabku "Iya". Aku menghadap satu arah, menghela nafas, dan menghirup udara pagi. Jam sudah menunjukkan pukul 04.30 WIB.
Sekarang. Aku jarang sekali menikmatinya. Menyudahi malam dengan menghirup bau minyak wanginya, menanti kehangatannya. Semua itu demi melanjutkan hidup. Aku harus mandiri dan bersiap di perantauan. Kelak, agar aku bisa menatap fajar di subuh hari.

0 Komentar