Suatu hari di kediaman Putu Wijaya. Aku berdiri dan kemudian melihat rumahnya dari kejauhan. Tampak, ada seorang laki-laki paruh baya memakai topi putih sedang duduk santai di teras rumah. Dilihat dari gayanya yang sedang duduk di sofa teras rumah, tak salah lagi, pasti Pak Putu Wijaaya. Tapi nampaknya ia seperti menunggu seseorang. Ah…aku sampai lupa, sore ini kan memang ia ada jadwal dengan teman-teman Teater Mandiri untuk latihan. Benar-benar, kataku. Sepertinya aku harus bergegas menghampirinya karena kalau sore tiba ia sudah dengan yang lain.
Tak terasa, aku sudah  menghabiskan beberapa menit karena lama berdiri dari kejauhan. Kok aku masih di sini, gumamku dalam hati. Dasar! Sesegara mungkin aku langkahkan kakiku untuk menghampirinya.
Seperti diketahui, Putu Wijaya merupakan salah satu sastrawan besar Indonesia yang serba bisa. Sebagai seorang penulis, sudah banyak karya tulisan yang ia ciptakan, mulai dari  tulisan drama, cerpen, esai, novel, dan juga skenario film dan sinetron. Tulisannya kerap mengisi surat kabar hingga sekarang. Sebagai penulis skenario, ia juga telah dua kali meraih piala Citra di Festival Film Indonesia (FFI), untuk karyanya Perawan Desa, 1980, dan Kembang Kertas, 1985. Selain itu, sebagai seorang dramawan, bersama dengan Teater Mandiri yang ia dirikan telah mementaskan puluhan lakon di dalam maupun di luar negeri. Puluhan karya sudah ia tulis dan pentaskan. Luar biasa! Jarang sekali di Indonesia ini ada orang yang seproduktif seperti beliau.
Lalu, Pak Putu pun langsung menceritakan kesibukannya sekarang. Ia mengaku tak seperti dulu yang selalu aktif dalam berbagai hal. Kini ia lebih banyak menghabiskan kegiatannya di rumahnya saja. Memang, pada bulan September 2012 lalu, Putu divonis oleh dokter terkena peradangan otak dan dirawat di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) hingga dua bulan lamanya. Demi pemulihan tubuhnya, hingga kini ia masih intensif melakukan fisio terapi di Rumah Sakit Siloam Hospital, Tangerang Selatan. ”Saya masih terus fisio terapi, tiga kali seminggu ke RS siloam hospital,” ceritanya.
Meskipun di rumah, namun tak menyurutkan ia untuk selalu berkreatifitas. Ia mengaku selalu menulis dan melukis bahkan menyutradarai sebuah garapan teater. “Karena saya belum bisa makai komputer, tangan saya masih lemah yang sebeleah kiri, jadi saya menulis dengan HP. Menulis kolom karena saya punya beberapa tempat, yang sangat berkala, puisi, cerita-cerita seperti biasanya, menulis esai, menulis skenario juga, belum bisa lagi membuat sinetron atau film karena kemampuan saya masih terbatas. Saya hanya masih bisa menyutradarai teater, yang bisa melakukan di rumah,” Putu menjelaskan.
Sebuah semangat yang perlu dicontoh oleh anak muda zaman sekarang. Bagaimana tidak, meskipun ia sedang sakit, ia selalu berkarya dan berkarya. Pak Putu seperti mensugestikan kepada tubuhnya agar tidak bermalas-malasan dalam hidup. Meskipun sedang sakit, seakan menunjukkan bahwa dirinya tidak demikian.