Helga Angelina Tjahjadi, cofounder Burgreens
Nama Helga Angelina Tjahjadi terkenal
sejak dirinya masuk dalam daftar pengusaha sukses dibawah usia 30 tahun di Asia versi majalah finansial asal Amerika Serikat, Forbes. Ia dianggap menginspirasi
banyak orang berkat bisnis
restoran
sehat yang ia geluti sejak tahun 2013, Burgreens. Sebuah restoran sehat yang menawarkan
berbagai jenis menu makanan
yang diolah
dari bahan nabati dan organik. Tak hanya sekedar bisnis, dengan Burgreens
ia juga mengajak kepada semua orang betapa pentingnya gaya hidup sehat. Lalu,
siapa sebenarnya sosok Helga Anggelina Tjahjadi ini? Seperti apa kisahnya
bersama Burgreens?
Berwirausaha sambil menyebarkan gaya hidup sehat
adalah dua kebersamaan yang dijalani oleh Helga Angelina Tjahjadi saat ini. Saat semua orang di
usianya menginginkan bekerja di sebuah perusahaan besar, namun ia lebih memilih
berwirausaha di usia muda. Lewat tangan dinginnya, ia mampu membuka Restoran
yang ia namakan dengan Burgreens. Sebuah
restoran sehat yang menawarkan berbagai jenis menu makanan yang diolah dari
bahan nabati dan organik. Tak hanya menularkan semangat berbisnis di usia muda,
lewat Burgreens, ia juga ingin mengubah pola pikir masyarakat untuk menjaga
kesehatan dengan menjadi vegetarian. Berkat caranya
yang unik dalam mengelola Burgreens, Helga juga masuk dalam daftar 30 Succes Stories Under Age 30 versi Forbes dalam kategori The Arts, tahun 2016. Kini,
sudah dua resto yang ia sudah kelola saat ini. Satu, di daerah Rempoa,
Tangerang Selatan, Banten, dan yang kedua ada di daerah Tebet, Jakarta Selatan.
Memilih Vegetarian. Berawal dari keputusannya
memilih menjadi vegetarian, Helga Angelina Tjahjadi malah menemukan jalan
menjadi seorang wirausahawan muda. Keputusannya memilih gaya hidup vegetarian
terpaksa ia lakukan lantaran sejak kecil ia sering mengalami sakit-sakitan yang
tak kunjung membaik. “Aku memilih gaya hidup vegetarian
sejak umur 15 tahun karena alasan kesehatan dan cinta binatang, jadi cukup
lama. Sejak kecil aku sakit-sakitan dan diobati
dengan obat-obatan kimia. Di usia 15 tahun, aku sempat ada gangguan ginjal dan
liver karena efek samping konsumsi obat-obatan terus menerus. Akhirnya aku
mulai membaca-baca buku tentang self-healing
& food combining. Saat SMP, aku memutuskan untuk berhenti mengkonsumsi
obat-obatan dan mulai menerapkan pola hidup sehat vegetarian,” terang Helga.
Keputusannya berhenti mengkonsumsi
obat-obatan dan lebih memilih menjadi vegetarian ternyata tepat. Sejak menjadi
vegetarian, kesehatannya pun mulai membaik. “Dalam 2 tahun keadaan kesehatanku
meningkat drastis.Sejak itu aku menjadi sangat passionate tentang healthy
and natural living,” ucapnya.
Kebiasaannya menjadi vegetarian
ternyata menular kepada temannya yang kini sudah menjadi suaminya, Max Elnathan Mandias. Saat itu, Helga sedang kuliah mengambil jurusan International
Communication di Arnhem Business School, Belanda. “Saat
kuliah di Belanda aku bertemu Max yang sangat jago masak. Sebagai tukang masak
di rumah, Max mulai bereksperimen dengan vegetarian dishes. Tapi aku sendiri ga
pernah bermaksud mengconvert dia jadi
vegetarian,”terang Helga.
Seperti
halnya dengan Helga, memilih vegetarian ternyata membuat Max sadar akan manfaat
yang didapat, baik untuk dirinya maupun terhadap lingkungan sekitar. “Dia
merasakan efek kesehatan yang luar biasa. Berat badan Max turun 12 kg dalam 3
bulan, banyak banget energi, dan gak gampang sakit,” terang Helga.
Selain
itu, mereka pun mencari tahu tentang manfaat menjadi vegetarian bagi kehidupan
sosial. Akhirnya merekapun menemukan titik temu kaitan erat tentang mengurangi
konsumsi daging dengan keberlangsungan lingkungan. “Industri peternakan dan
daging adalah salah penyebab utama terjadinya climate change atau global
warming akibat polusi dari kotoran binatang, kotornya air, dan pertanian
industrial yang merusak lingkungan untuk makanan ternak,” terang Helga.
Untuk
kesehatan, kelestarian binatang dan lingkungan adalah alasan kuat mengapa mereka
yakin memilih menjadi vegetarian. Bersama dengan Max yang waktu itu
masih menjadi kekasihnya mulai berfikir untuk membuka bisnis makanan sehat. Mereka
mulai belajar dan bereksperimen membuat masakan dari Nabati dan organik.. “Beberapa
bulan sebelum aku lulus, kita pun mulai ngobrol-ngobrol tentang ingin melakukan
bisnis sesuai passion kita tentang healthy food & environment, while at the
same time contribute to the society we live in,” ucap Helga.
Memulai
usaha Burgreens. Semangatnya ingin membuka bisnis makanan sehat tak
terelakan. Sekitar bulan Agustus 2013, merekapun memutuskan untuk kembali ke
tanah air dan pada bulan November 2013, akhirnya mereka membuka restoran di
daerah Rempoa, Tangerang Selatan, Banten. Restoran tersebut ia namakan dengan
Burgreens. “Max pun semakin semangat dengan ide
Burgreens dan mulai mencoba membuat veggie burger pertama kami: Mighty Mushroom
and Beans ‘N Cheese. Setelah dites ke 6 teman kos kami dan puluhan teman-teman
sekolah, dan dibilang ‘enak banget’ akhirnya kami memutuskanuntuk kembali ke
Indonesia untuk memulai Burgreens,” ucap Helga.
Sesampainya di Indonesia, merekapun
akhirnya membagi tugas sesuai dengan keahlian masing-masing. Tak hanya berdua
saja, ia pun dibantu oleh beberapa temannya. Modal awalpun terpaksa mereka
ambil dari uang tabungan mereka. “Modal awal dari tabungan pribadi sebesar 220
juta. Max langsung menggarap menu dan mencari supplier; sedangkan aku fokus di
pembuatan brand identity dan marketing. Dengan bantuan teman SMA saya, Banyu
Bening, kami pun menggarap resto pertama dengan modal dan bahan-bahan
seadanya,” cerita Helga.
Setelah berjalan selama enam bulan,
merekapun mulai melihat perkembangan dan mulai memikirkan konsep ke depannya.
Demi kemajuan Bugreens, Max pun rela menimba ilmu kembali di bidang makanan
sehat dan enak. Ia pun kemudian kursus di beberapa Chef yang memiliki keahlian
di bidang tersebut. “Setelah Burgreens berjalan selama 6 bulan, Max pun menempa
ilmu Raw Food Chef for Healing di Pure Raw Academy dan kursus pribadi ke Raw
Food Master lulusan Living Lights Culinary,” ucap Helga.
Konsep
dan Marketing. Dijelaskan olehnya, Burgreens restoran,
catering, dan delivery makanan sehat berbasis nabati dan organik. Tak hanya
makanan sehat, ia juga membuat makanan sehat yang rasanya sangat enak dan mudah
dikonsumsi oleh banyak orang. “Konsep kita adalah “healthy plant-based fast
food” dimana sebagian besar bahan mentahnya lokal, organik atau minimal alami,”
terang Helga.
Nama Burgreens diambil dari
kombinasi Burger dan Green. Burger melambangkan Fast food, convenient to eat
dan Green, melambangkan bahan nabati yang digunakan pada makanan tersebut,
yaitu bahan organik atau alami, tanpa daging, green operations yang ramah
lingkungan. Tak hanya makanan, ia juga mendekor tempat restoran tersebut dengan
nuansa hijau dan asri.
Saat ini mereka
sudah memiliki dua resto yang dikelola. Satu, berada di daerah Rempoa, Tangerang
Selatan, Banten dan yang kedua ada di daerah Tebet, Jakarta Selatan. Helga
Angelina Tjahjadi sebagai cofounder Burgreens, Max Mandias yang sekarang
menjadi suaminya menempati posisi sebagai Production
dan R & D Director atau Executive Chef. Tak hanya berdua, ia juga dibantu
dengan dua rekannya yang lain. Glenn Patrick sebagai Catering Manager, dan
Banyubening sebagai shareholder pasif. Selain itu, ia juga sudah memiliki
banyak karyawan. Total sudah 23 karyawan yang sudah mereka pekerjakan, 10
karyawan di daerah Rempoa, 9 karyawan di Tebet, dan 4 karyawan di dapur
produksi. Soal gaji, tergantung dari kinerja karyawan. “Gaji di atas rata-rata
dan berbeda-beda tergantung level, fungsi, dan performanya,” terang Helga.
Untuk Menunya pun kini mulai
beragam, mulai dari 5 menu, kini sudah mencapai 50 menu yang ditawarkan,
diantaranya adalah veggo skewers, mushroom nugget skewers, sweet potato
chips, burgreens bowl, double caspian mungbean burgreen, raw mushroom noodle,
brugreens matah salad, burgreens steak,
serta 18 menu minuman. Diantara menu andalan mereka adalah Mini Trio Burger.
Menu yang menyajikan tiga burger mini dengan tiga isi yang berbeda, yakni mulai
dari kacang-kacangan, jamur, dan bayam sebagai pengganti daging padapetty-nya.
Selain itu, ada salad Lemongrass Dressing yang akan memanjakan lidah. Jika
tertarik dengan steak, sajian Mushroom Steak tak kalah enak dengan daging.
Untuk penganan yang membutuhkan gula, Burgreens menggunakan gula kelapa atau
madu sebagai pengganti gula pasir.
Untuk strategi pemasaran, Burgreens juga fokus mengembangkan delivery. Sejak pukul 10
pagi, pemesanan sudah mulai dibuka. Seluruh tempat pun bisa dijangkau. Pesanan
juga bisa diantar hingga Daan Mogot atau Sudirman dan Thamrin. Sayangnya, Helga
enggan mengatakan omzet penjualan Burgreens pada setiap bulannya.
Untuk kelancaran usahanya, Helga juga bekerjasama dengan
warga sekitar resto. Misalnya, untuk petugas kebersihan dan satpam menggunakan
warga lokal. Bahkan, untuk delivery mereka menggunakan jasa tukang ojek.
Selain itu, untuk menyokong segala bahan baku, mereka juga bekerja sama dengan
para petani lokal dan supermarket yang menyediakan bahan organik. “Kami
bermitra dengan kelompok tani organik lokal, pengrajin makanan, dan supermarket
organik yang menyediakan bahan-bahan mentah, dan memperkerjakan underprivileged
women. Kami berkomitmen untuk membuat impact positif ke masyarakat baik di
dalam tim maupun di luar tim melalui kemitraan dan edukasi,” ucap Helga
menjelaskan.
Kendala. Menurut Helga,
mendirikan Burgreens bukan perkara mudah, mereka butuh persiapan lama supaya
konsepnya matang. Saat tinggal di Belanda dia dan suaminya terus memutar otak
supaya bisnis makanan sehat itu bisa terwujud. Sejak tahun 2012 mereka
memikirkan ide tersebut hingga kemudian bisa terwujud pada tahun 2013.
Salah satu dari kendala yang dihadapi oleh
mereka adalah tidak adanya kesamaan visi dan misi dari enam pendiri itu, hingga
akhirnya kini tinggal tiga orang. Selain itu, awal buka resto ada hari-hari
dimana tidak ada pengunjung sama sekali. “Mulai dari human resource
problem, fragmented supply chain yang jauh lebih kompleks daripada supply chain
restoran konvensional. Karena supplier makanan organik dan lokal alami masih
terpencar-pencar di beberapa farm dan food artisans, edukasi market, dan
lain-lain,” terang Helga.
Bukan hanya itu saja, di
awal mereka juga pernah mengalami penurunan penjualan dan berbagai komplain
ketidakpuasan dari para pengunjung. “seperti saat sales
menurun, masalah dengan relasi dengan partner, medapat complaint dari customer
yang complain,” terang Helga.
Meski
memiliki banyak masalah, Helga tetap semangat karena semangat dari orang-orang
disekelilingnya. Baik keluarga ataupun teman selalu mensuportnya sejak awal.
Hal itu yang membuat Helga merasa terharu akan dukungan dari mereka. “Keluarga dan
teman-teman sangat mendukung.Saya sering terharu betapa suportifnya mereka
terutama saat kami menghadapi banyak masalah,” ucap Helga.
Namun, kini Helga merasa bersykur karena Burgreens sudah
dikenal dan disukai banyak orang. Ia pun kini merasakan manfaat yang dirasakan
berkat hasil kerja kerasnya selama ini. “Sukanya dari melihat bisnis yang saya rintis dari nol ini berkembang,
saat melihat tim kompak, susah dan senang bersama, saat mendapatkan apresiasi
dari tamu-tamu yang puas, dan berkenalan dengan orang-orang inspiratif di
journey ini,” terang Helga.
Side Bar
Ingin
Kembangkan Burgreens Selayaknya Fast Food
Namun, bukan berarti setiap orang harus menjadi vegetarian
menurutnya. Karena dengan mengurangi konsumsi daging saja, kita sudah melakukan
tindakan yang baik bagi lingkungan sekitar. “Bukan
berarti semua orang harus menjadi vegetarian. Dengan mengurangi konsumsi daging
ke dua kali seminggu pun kita sudah melakukan impact yang luar biasa positif ke
lingkungan,” ucapnya.
“Buying means voting. Or in this case, eating means voting.
Saat kita membeli, kita voting untuk dunia seperti apa yang anak cucu kita akan
tinggali. Apakah kita mau membeli makanan-makanan instan hasil pabrikan dan
membuat perusahaan-perusahaan besar semakin kaya; atau kita mau membeli ke food
producer lokal yang memberdayakan petani-petani lokal organik?” tambahnya
menjelaskan.
Meski kini Burgreens sudah dikenal, ke depan
ia ingin mengembangkan usaha tersebut. helga menginginkan agar nantinya
burgreens menjamur di masyarakat selayaknya fast food. “Saya ingin
mengembangkan Burgreens untuk mencapai visinya - membuat makanan sehat berbasis
nabati dan organik – menjadi enak dan menjamur dimana-mana selayaknya fast food
sehingga dapat dinikmati orang banyak,” harap Helga.

0 Komentar