Catatan pribadi:
Ketika Iblis Menikahi Seorang Perempuan, dari
naskah terjemahan When The Devil's Take a Wife karya Niccolo
Machiavelli, sebuah cerita rakyat yang diangkat dari negara Italia.
Cerita ini bermula dari keluh-kesah dari penghuni Neraka yang kebanyakan
mengeluh karena para istrinya saat di dunia. Atas dasar kebijakan
kemudian para iblis penguasa Neraka pun berkumpul dan menggelar
musyawarah. Mereka pun berlaku arif dan bijak terhadap permasalahan
manusia tersebut. Maka diutuslah seekor
iblis yang berprestasi bernama Belfagor untuk mengemban tugas berat,
yaitu pergi ke bumi dan hidup selayaknya manusia sungguhan, menjadi
seorang suami dari salah satu perempuan. Tak hanya sendiri, Belfagor pun
ditemani oleh kedua temannya bernama Radhamantus dan Minos. Masalah
demi masalah pun kemudian muncul di tengah-tengah mereka. Pada akhirnya,
mereka pun tahu kenapa setiap hari para lelaki di Neraka mengeluh
karena para istrinya. Bahkan, Belfagor pun ketakutan dengan sosok wanita
yang dinikahinya.
![]() |
| Add caption |
Teater
Fajar dari Universitas Muhammadiyah Magelang dengan sutradaranya T Arif
mengemas cerita ini dengan ringan dan kocak tapi tetap tidak
menghilangkan esensi mencekam dan satire pada setiap adegan. Hal itu
terlihat dari cara setiap aktor memainkannya. Kaya akan gimmik dan
gestur lucu dan unik yang diperagakan oleh pemain. Dan membuat setiap
peralihan adegan terasa hidup. Respon tawa para penonton dari awal
hingga akhir adegan adalah sebagai buktinya. Catatan lain, setting
panggung yang digambarkan
dengan batu yang memanjang dan dua pilar yang
bisa diputar sesuai latar, yaitu gambar api, pohon, dan gedung. Meskipun
menurutnya itu sebagai simbol saja, tapi saya sebagai penonton yang
melihat merasa imajinasi saya akan suasana adegan terbatasi oleh setting
panggung tersebut. Tapi lagi-lagi itu pilihan dari penata artistik dan
sutradara. Sebagai bentuk oleh-oleh, mereka menghadirkan beberapa tokoh
logat jawa. Serta Musik khas jawa pun kadang mereka perlihatkan di
adegan. Namun, dominan musik pada setiap adegan sangat terasa sekali.
Hampir setiap para aktor berbicara selalu diiringi dengan musik, baik
sebelum atau sesudahnya. Kalau kata orang betawi bilang mah "musiknya
bawel". Dan ada beberapa musik yang menurut saya tidak mewakili
peristiwa. Misal di musik pembuka/opening. Mereka menembangkan lagu
berjudul Gadis atau Janda (Mansyur S) yang sudah diaransement ulang.
Yang jadi pertanyaan, hubungannya apa lagu tersebut dengan adegan? Tapi
lagi-lagi itu pilihan. overral, keren dan menghibur!
dengan batu yang memanjang dan dua pilar yang
bisa diputar sesuai latar, yaitu gambar api, pohon, dan gedung. Meskipun
menurutnya itu sebagai simbol saja, tapi saya sebagai penonton yang
melihat merasa imajinasi saya akan suasana adegan terbatasi oleh setting
panggung tersebut. Tapi lagi-lagi itu pilihan dari penata artistik dan
sutradara. Sebagai bentuk oleh-oleh, mereka menghadirkan beberapa tokoh
logat jawa. Serta Musik khas jawa pun kadang mereka perlihatkan di
adegan. Namun, dominan musik pada setiap adegan sangat terasa sekali.
Hampir setiap para aktor berbicara selalu diiringi dengan musik, baik
sebelum atau sesudahnya. Kalau kata orang betawi bilang mah "musiknya
bawel". Dan ada beberapa musik yang menurut saya tidak mewakili
peristiwa. Misal di musik pembuka/opening. Mereka menembangkan lagu
berjudul Gadis atau Janda (Mansyur S) yang sudah diaransement ulang.
Yang jadi pertanyaan, hubungannya apa lagu tersebut dengan adegan? Tapi
lagi-lagi itu pilihan. overral, keren dan menghibur!

0 Komentar