Karya & Sutradara: Achmad Echo Chotib
Tanggal 11 November 2017, pkl 14.00
Oleh: Erry Anwar

ARTISTIK
Setting bagus, imaji kapal berlayar cukup kuat meski hanya dengan beberapa batang bambu, tiang-tiang dan layar-layar yang bergerak dan menggembung, fill set-nya dapet. Juga saat berada di pulau, beberapa perubahan set cukup efektif, imajinatif dan tetap ada pertimbangan estetika pada penempatan (pengkomposisian set & properti) benda2, penyusunan bambu2, seperti saat adegan mereka membangun kapal baru, ruang panggung yang 3 dimensional itu telah terasa dimanfaatkan secara fungsional maupun secara estetika. Percakapan di dapur dan multi media yang tampil bagus. Dalam 20 menit pertama saja mereka sudah 4 kali ganti tempat dan set, dan sampai set ke 5 mereka masih memakai bambu tangga kapal sebagai atap rumah. Pada menit ke 50 mulai terasa ada magic of theatre di atas panggung pertunjukan ini. Kostum pelaut bagus, kostum Juhara / ratu (Julaikha) juga bagus. Yang rasanya masih kurang mencerminkan karakternya, bagi saya adalah kostum Barka / Harut dan Roka / Marut.
 
MUSIK
Sebagai ilustrasi cukup mendukung dan musiknya teatrikal. Lagu pertama bersama, gerakan bersama, kapal dan tangga-tangga serta layar, semua mengesankan disaat pembukaan






NASKAH, PENYUTRADARAAN & PERTUNJUKAN
Opening bagus. Ceritanya orisinal yang merupakan kisah khayalan baru dengan semangat petualangan yang kuat, merupakan ramuan dari mitos, imaji anak-anak – kita bisa terbawa kepada kisah2 Disney seperti PeterPan, Moana atau film Carribean Pirattes yang berseri-seri itu, cerita juga mengingatkan kita kepada pelaut2 tangguh dari Timur seperti tokoh Hang Tuah dalam hikayat dan mistiknya serta tokoh Sawerigading sang nahkoda dalam Sureq La Galigo. Semua itu diramu menjadi satu adonan impian yang mengalir dengan indah, lancar mendekati sempurna sebagai pertunjukan teater modern yang akan laku dijual ke pasar. Tentu saja pesannya juga jelas. Misalnya ada dialog ini: “Cinta kepada manusia adalah cara untuk memperoleh cinta dari yang menciptakan manusia”. Atau dialog ini: “Ilmu jadi amal, amal jadi ibadah”. Karena penempatannya pas saatnya, disampaikan pada adegan yang tepat pula dengan tidak sembarangan, maka dia bisa menjadi pesan yang terekam dalam memori penonton. Cerita dan pertunjukan secara menyeluruh memiliki intensitas dalam menjaga keingintahuan kita akan ending nya, konflik tersuguhkan dengan baik dan pas. Video mapping, tata cahaya, penataan musik, turut mendukung.

PEMERANAN

Semua pemain sudah dewasa dan cukup kuat. Diantara mereka hanya tokoh Hang Juro yang kurang baik. Padahal dia peran utama pria, kemungkinan pilihan karakternya yang agak mendekati tokoh pelaut Hang Tuah, padahal saya kira dia akan lebih tepat jika mendekati karakter Hang Jebat, kalaupun mau mengambil tokoh observasi kepada cerita Melayu tersebut.





Penata Artistik: Muhriji Sanjari
Make up : Anis Nufus
Kostum : Hilmia Murtaqia Sama
Lighting : Ari Sumitro
Music : fiki dan Ramdhan Geige
Grafis : Tedi Kriyanto
Video mapping: Muhamad Jauhar Haeckal dan Sayyidul Aqsha
Pimpinan produksi: Rukoyah Chan
Stage manager: Laila Uliel El Nama
Asst. Stage manager: Nurkholis Makki
Photo by: seketi tewel