Suatu senja di plataran rumah kompleks. Begitu aku keluar dari rumah, ia tak sadar bahwa aku sedang memperhatikannya. Aku berusaha mengamatinya dengan mata serius bahkan nanar. Sesekali aku mencoba menoleh ke kanan. Agar ia tak curiga. Atau sekedar membetulkan sedikit pakaian sambil bersiul-siul tak jelas. Mungkin seperti adegan kucing yang sedang mengendap-endap makanan di meja. Tak sampai di situ saja, kadang tanganku bersandar begitu saja ke pagar rumah. Kalau ia sadar, mungkin ia malu karena aku sedang memperhatikannya. Atau malah sebaliknya. Ia merasa senang dan berlama-lama melakukan sesuatu karena ada yang memperhatikan. Senyum kecil yang keluar dari mulutnya itu adalah sebagai buktinya. Entahlah. Saya tidak mau menduga-duga. Tapi, nyatanya diriku juga ada yang memperhatikan. Jelas saja, seorang perempuan cantik yang turun dari mobil Honda Jazz warna merah dengan rambut terurai meliuk-liuk karena terkena angin. Mirip adegan perempuan iklan sampo. Berdiri menghampiriku. Alih wahana hati dan perasaanku pun kemudian terjadi. Aku pun tersenyum dengan perasaan bangga. Ini momen yang menurutku indah sekali. Aku pun tak sabar, menunggu kalimat pertama yang ia ucapkan kepadaku. Ia membuka kaca mata dan kemudian berbicara, "mas, tuli ya! Dari tadi diklaksonin kaga minggir-minggir. Ini mobil saya mau masuk. Ngapain berdiri di pagar rumah orang,". Kemudian, suasana pun berubah. Bersambung